Showing posts with label Sepak Bola. Show all posts
Showing posts with label Sepak Bola. Show all posts

Garrincha, Penemu 'Banana Kick' Yang Terlupakan

Saturday, September 17, 2011 | 0 comments

Udah pada tau kan tendangannya Roberto Carlos yang menggoncang Fabien Barthez sebelum World Cup ’98? Itu tuh bola yang berbelok ketika berada di udara. Itulah banana kick, yang “melengkung” tapi keras bgt. Yang pertama ngelakuin, ada banyak versi sih. Yang gw angkat anak pincang dari Brazil, pesepak bola terbesar sepanjang masa setelah Pele, Garrincha.







Nama aslinya adalah Manuel Francisco dos Santos. Lahir tahun 1953 dalam keadaan tulang punggung miring dan kedua kakinya tidak sama panjang. Nggak bisa bayangin kalo dia adalah top dribbler yang pernah lahir di bumi ini. Melihat cacatnya dia, nggak ada yang mengira di adalah bintang masa depan Brazil.

Pertama kali ikut Piala Dunia di Swedia tahun 1958. Menghadapi Uni Soviet yang favorit juara, Garrincha langsung memukau pada menit pertama. Melewati 3 pemain dan menceploskan gol. Itulah awal mula kejayaannya. Kerja samanya dengan Pele membuat tim lain porak-poranda. Brazil sendiri juara kala itu setelah mengalahkan tuan rumah dengan skor 4-2. Garrincha pun masuk "Best XI World Cup 1958".

Piala dunia keduanya tahun 1962. Pele cedera sejak pertandingan ke-2, karena waktu itu tim-tim Eropa mengandalkan catenaccio yang keras. Garrincha tampil sebagai pemain bintang. Di perempat final, melawan Inggris inilah Garrincha memamerkan keahliannya. Menerima bola di luar kotak penalti, dan menendangnya dengan lintasan melengkung, itulah pertama kali teknik “banana kick” dipertontonkan. Tahun ini Brazil lagi-lagi juara setelah mengalahkan Czechoslovakia.

Gaya Bermain

Sebagai pemain sayap, Garrincha mengandalakan dribble dan kecepatannya. Tercatat dia menghasilkan 232 gol baik dari kaki maupun kepala. Passing, heading dan shooting semua termasuk kelas wahid. Dia juga dikenal sebagai eksekutor bola mati yang benar2 mematikan. Kepalanya masih bisa menghasilkan gol walaupun tinggi badannya termasuk pendek waktu itu (1.69 m). Pokoknya top markotop dah. Samba bgt deh!





Akhir Hidup

Kehidupan keseharian Garrincha dihabiskan dengan kehidupan malam dan alkhohol. Akibatnya kesehatannya terganggu. Tahun 1983 Garrincha pun meninggal dengan tragis karena kerusakan liver. Waktu itu ia “baru” berumur 50 tahun. Namanya diabadikan menjadi nama stadion di Brazil “Estádio Mané Garrincha”. Bahkan ada filmnya juga lho, Garrincha - Estrela Solitária ("Lonely Star") yang rilis tahun 2003. Buku tentang dirinya pun ditulis, "Garrincha - The Triumph and Tragedy of Brazil's Forgotten Footballing Hero"

Penghargaan

World Cup champion: 1958, 1962
Campeonato Carioca: by Botafogo 1957, 1961, 1962
O'Higgins Cup winner: by Brazil 1955, 1959, 1961
Oswaldo Cruz Cup: by Brazil 1958, 1961, 1962
Roca Cup: by Brazil 1960
Torneio Rio-São Paulo by Botafogo 1962, 1964, 1966

(Individual)
World Cup top scorer: 1962 (tied)
World Cup Player of the Tournament: 1962
World Soccer Player of the Year: 1962
Brazilian Football Museum Hall of Fame

Fakta2
  • Sewaktu bermain untuk Botafogo umur 19 tahun, ia harus pergi ke tempat latihan dengan naik kereta selama 2,5 jam dan berjalan kaki 3 mil jauhnya.
  • Salah satu dari sedikit pemain yang pernah mencetak gol langsung dari sepak pojok. Tercatat ia 3 kali melakukannya.
  • Pernah diancam akan dilempar-bata (baca:dikartu merah) karena terlalu banyak dribbling melewati lawan
  • Masuk “FIFA Player of the 20th century” 

sumber

Profil 6 Pemain Naturalisasi PSSI Terbaru |

Friday, September 9, 2011 | 0 comments



Berikut profil singkat keenam calon pemain naturalisasi tersebut.

Stefano Lilipaly
Lilipaly adalah pemain kelahiran Arnhem, Belanda, 10 Januari 1990. Darah Indonesia pada pemain FC Utercht ini mengalir dari ayahnya yang merupakan keturunan Ambon, Maluku. Sedangkan ibunya adalah asli Belanda. Lilipaly telah bergabung dengan pemusatan latihan timnas U-23 saat masih ditangani oleh Alfred Riedl, Maret 2011 lalu.

Awalnya, Lilipaly enggan melepas paspor Belandanya. Namun belakangan pemain yang berposisi sebagai gelandang serang itu berubah pikiran dan bersedia menjadi WNI.

Stefano Lilipaly mulai bermain bola sejak usia 7 tahun di sebuah klub amatir bernama DCG selama tiga tahun. Dari klub tersebut, dia pindah ke akademi sepakbola Belanda, AZ Alkmaar. Setelah bertahan satu tahun, Lilipaly bergabung ke Utrecht Yunior hingga saat ini.

Sebagai gelandang, Lilipaly tak hanya memiliki naluri menyerang. Pemain berpostur tubuh 170 cm itu juga punya kemampuan dalam membagi bola dengan baik. Lilipaly juga dikenal memiliki tendangan jarak jauh yang akurat.  Musim kompetisi 2010-2011 ini, Lilipaly tampil dalam tiga pertandingan. Setiap pertandingan, dia berhasil mencetak gol dari luar kotak pinalti.

Jhon van Beukering
Beukering adalah pemain kelahiran Velp, Belanda, 29 September 1983. Pemain ini dikabarkan telah mengikat kontrak selama tiga tahun dengan Pelita Jaya.

Beukering mengawali karirnya di dunia sepak bola dengan membela Vitesse 2000-2004. Di musim pertamanya, pemain yang berposisi sebagai striker itu  mencetak 2 gol dari tiga kali penampilannya. Di musim berikutnya Beukering mendapat tempat di tim inti namun hanya mampu mencetak tiga gol saja.

Lama tak bermain di musim 2002/2003, Vitesse akhirnya meminjamkan Beukering ke FC Zwolle sebelum akhirnya memperkuat tim senior De Graafschap 2004-2007. Beberapa kali Beukering berpindah klub, mulai dari NEC, Go Ahead Eagles, Feynord, dan CS Vise.
Terakhir, Beukering dikabarkan tengah mengikat kontrak selama tiga tahun dengan Pelita Jaya. Beukering sebenarnya sempat diudang memperkuat Indonesia saat menghadapi Uruguay beberapa waktu lalu. Namun karena belum memegang paspor Indonesia, PSSI akhirnya membatalkan kedatangannya.

Sergio van Dijk
Pemain kelahiran Assen, Belanda, 6 Agustus 1982 ini merupakan calon pemain naturalisasi pertama yang diperkenalkan PSSI.

Sergio-sapaan akrabnya- diperkenalkan kepada media di Indonesia Juli tahun lalu. Kepada wartawan, Sergio yang memiliki garis keturunan Indonesia dari ibunya itu mengaku bersedia memperkuat tim nasional Indonesia.

Namun proses naturalisasi tidak berjalan mulus karena awalnya Sergio tidak bersedia menjadi WNI secara permanen. Lama tak terdengar, Sergio belakangan berubah pikiran dan rela melepas paspor Belandanya.
Sergio merupakan satu dari enam pemain asing yang proses perubahan status kewarganegaraannya telah disetujui komisi III dan VIII DPR RI.

Sergio mengawali karir profesionalnya dengan membela klub Groningen 2000-2002. Selanjutnya, Sergio pindah ke Helmond Sport namun hanya mampu mencetak mencetak 13 gol pada musim 2002-2005.

Setelah sempat memperkuat Emmen (2005/08) Sergio mengadu nasib di Liga Australia dengan memperkuat Brisbane Roar pada 2008-2010. Di musim pertamanya, Sergio tampil sebagai top skorer setelah mencetak 47 gol. Setelah gagal menjalani tes kesehatan di klub asal Inggris, Leicester, Sergio akhirnya bergabung dengan Adelaide United hingga saat ini.
   
Tonnie Cusell Lilipaly
Nama Tonnie Cussel tak setenar kandidat-kandidat pemain naturalisasi lainnya. Tonnie merupakan saudara sepupu Stefano Lilipaly. Pemain berusia 28 tahun itu datang ke Jakarta menemani Stefano memenuhi panggilan PSSI, Maret lalu.

Tonnie merupakan pemain yang telah malang melintang di sepak bola Belanda. Berbagai klub telah dibela pemain kelahiran 4 Februari 1983 itu, mulai Vitesse Arnhem, RKC Waalwijk, FC Twente, AFC Amsterdam dan terakhir di FC Hilversum. Tonnie dikenal sebagai pemain yang memiliki kecepatan, passing yang matang, dan penguasaan bola yang baik.

Bagi Tonnie, Indonesia bukanlah negara yang asing. Selain mengunjungi Jakarta Maret lalu, pemain yang mengidolakan Gianfranco Zola itu juga sudah pernah ke Bali. Tonnie mengaku sangat menyukai Indonesia. Selain mencoba peruntungannya di tim Merah Putih, ayah satu anak itu bahkan berniat mencari klub di Indonesia.

Victor Igbonefo 
Bagi pecinta sepak bola nasional, pemain ini sudah tidak asing lagi. Pemain asal Nigeria itu sudah membela Persipura Jayapura sejak 2005 lalu. Bersama Mutiara Hitam, bek tangguh ini sudah merasakan tiga kali gelar juara. Masing-masing saat Persipura merebut gelar juara Liga Indonesia 2005 dan Liga Super Indonesia (ISL) 2008/09 dan 2010/11.

Semasa mudanya, pemain bernama lengkap Victor Chukwuekezie Igbonefo ini sempat bermain bersama klub Nigerdock Soccer Academy dan First Bank FC Lagos. Dengan postur 186 cm, bek kelahiran 10 Oktober 1985 itu sangat tangguh di lini belakang. Setelah bermain lebih dari lima tahun di Indonesia, Victor pun bersedia untuk dinaturalisasi menjadi WNI.

Greg Nwokolo
Greg juga sudah memperkuat berbagai klub di Indonesia. Pemain kelahiran Nigeria, 3 Januari 1986 ini awalnya bermain untuk klub asal Singapura, Tampines Rovers FC 2004. Setelah semusim, Greg kemudian pindah ke Young Lions.

Perjalanan karir Greg di Indonesia sempat mengalami pasang surut. Putra kelima pasangan Gregory Nwokolo dan Josephine Nwokolo itu mengawali karirnya di kompetisi nasional bersama Persijatim Solo FC pada 2004.

Setelah kompetisi selesai, Greg sempat hengkang dari Indonesia. Kecewa dengan kondisi kompetisi Indonesia yang buruk, dia memilih bermain di Liga Singapura musim 2004-2006. Di sana dia bergabung bersama Young Lions FC dan Singapore Armed Force.

Setelah iklim Liga Indonesia membaik Greg memutuskan untuk kembali lagi ke Indonesia. PSIS Semarang menjadi pelabuhan pertamanya setelah kembali dari Singapura.

Bersama Mahesa Jenar, Greg tampil luar biasa. Sayangnya, dia tak lama berkostum PSIS. Setelah sempat terlibat keributan dengan rekan setimnya, Greg akhirnya pindah ke PSMS Medan, pada putaran kedua. Di PSMS, Greg tak lagi bersinar.

Musim selanjutnya, Greg pindah ke Persis Solo. Sempat memegang ban kapten, namun di Persis, Greg lagi-lagi tak terkendali. Dia berubah menjadi pemain temperamental di lapangan.Bahkan, dia sempat memukul hakim garis Sunaryanto saat Persis bertanding lawan Persipura Jayapura. Saat itu Persis tumbang 0-1.

Akibat ulahnya ini, Greg harus menerima cap negatif dari Badan Liga Indonesia (BLI). Di awal musim ini, BLI menggolongkan Greg ke dalam pemain yang tidak direkomendasikan untuk direkrut klub.

Greg memutuskan pindah ke Persija pada musim 2008. Bersama Macan Kemayoran, Greg tampil gemilang dan mencetak 16 gol dari 20 laga. Greg sempat bermain di klub Portugal SC Olhanense sebelum kembali ke Persija pada 2010. Bersama Persija, Greg menjadi selalu mendapat tempat di tim inti. Bahkan kini Greg menjelma menjadi motor serangan Macan Kemayoran.

6 Pemain Naturalisasi Siap Perkuat Timnas

| 0 comments

foto 
Stefano Lilipaly
 
Enam pemain asing yang akan dinaturalisasi kemungkinan akan memperkuat skuad tim nasional dalam laga lanjutan babak pra-kualifikasi Piala Dunia 2014. Para pemain tersebut bisa menggantikan beberapa pemain yang saat ini cidera.

"Masih bisa didaftarkan (masuk timnas) karena paling lambat pendaftarannya seminggu sebelum pertandingan," kata Ketua Umum PSSI Djohar Arifin di kantornya, Jumat, 9 September 2011.

Keenam pemain naturalisasi tersebut yaitu, Tonnie Cusell, Stefano Lilipaly, Johny Rudolf van Beukering, dan Sergio van Dijk. Keempatnya warga keturunan Belanda. Sementara 2 pemain lainnya berasal dari Nigeria, yakni Greg Nwokolo (Persija) dan Victor Chuckwuekezie Igbonefo (Persipura Jayapura).

Proses naturalisasi 6 pemain tersebut sudah mencapai tahap akhir. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kabarnya telah meneken surat Keputusan Presiden terkait naturalisasi 6 pemain itu. Tinggal tahap pengambilan sumpah di Kementerian Hukum dan HAM yang harus dilalui para pemain itu untuk bisa menjadi warga Indonesia.

Kesempatan mereka bergabung dengan timnas terbuka lebar karena babak lanjutan pra-kualifikasi Piala Dunia baru akan dimulai 11 Oktober mendatang. Indonesia akan menjamu Qatar dan 4 hari kemudian melayani Iran di Stadion Gelora Bung Karno. "Tapi semua tergantung pelatih," kata Djohar.

Indonesia Terancam Sanksi $1 Juta Selain ancaman sanksi denda, Indonesia bisa dikenakan hukuman pertandingan tanpa penonton.

Thursday, September 8, 2011 | 0 comments

Indonesia terancam mendapat sanksi berupa denda hingga $1 Juta atau pertandingan tanpa disaksikan penonton menyusul aksi penyalaan mercon dan kembang api, serta pelemparan botol air mineral dalam pertandingan putaran tiga Pra Piala Dunia 2014 zona Asia melawan Bahrain di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta, Selasa (6/9) malam WIB.
 
Laga antara Indonesia dan Bahrain sempat dihentikan pada menit ke-80 setelah wasit Lee Min Hu berkonsultasi dengan pengawas pertandingan asal Arab Saudi, Salman Al Namshan. Indonesia menelan kekalahan 2-0 dalam laga tersebut.

Ketua komite disiplin konfederasi sepakbola Asia (AFC) Lim Kia Tong mengungkapkan, pihaknya berusaha mengurangi aksi tidak terpuji yang dilakukan para penonton. AFC bakal mengambil tindakan tegas terhadap aksi tak terpuji sesuai dengan komitmen mereka pada 15 Agustus lalu.

“Tidak ada tawar menawar dalam hal keamanan fans, peamin, dan siapa pun yang pergi ke stadion untuk menyaksikan pertandingan. Semua tindakan yang tak bertanggung jawab serta membahayakan tidak bisa ditolerir,” tegas Lim dilansir laman resmi AFC.

Ditambahkan, komite disiplin AFC mengingatkan negara maupun klub anggota harus bertanggung jawab terhadap masalah keamanan. Jika tidak, maka bisa dikenakan sanksi berupa denda hingga $1 juta, atau menggelar pertandingan tanpa penonton.

Suryo Agung Lamar Sriwijaya FC

| 0 comments

Sriwijaya FC Palembang (GOAL.com/Eko Suswantoro)
Sprinter peraih medali emas SEA Games Laos 2009 lalu, Suryo Agung, tertarik untuk beralih profesi menjadi pemain bola.

Suryo pun telah menyatakan keinginannya itu ke manajemen Sriwijaya FC melalui Budi Sudarsono, striker SFC.

"Kami mendapatkan info dari Budi kalau Suryo ingin main di SFC," kata direktur teknik PT Sriwijaya Optimis Mandiri Hendri Zainuddin, di Palembang, Rabu (7/9).

Menurut Hendri, manajemen klub memberikan kesempatan kepada Suryo untuk mengikuti seleksi terlebih dahulu.

"Rencananya pada Jumat (9/9), Suryo akan ke Palembang untuk ikut seleksi. Jika pelatih setuju maka kami tidak segan-segan mengontrak, tapi semua terserah pada pelatih," tukas dia.

Kiprah Suryo di lintasan lari sudah teruji, tapi sebagai pesepakbola rekam jejaknya belum ditemukan.

Beberapa waktu lalu, dia mengikuti seleksi pemain PSIS Solo.

Sebelumnya, Suryo memutuskan untuk tidak memperkuat Indonesia pada SEA Games Indonesia yang direncanakan pada September mendatang, karena memutuskan untuk menunaikan ibadah haji.

Keputusan Suryo ini terbilang kontroversi mengingat dia menjadi andalan pada SEA Games.

"Kami sudah mengetahui track record dari Suryo, termasuk keputusannya keluar dari timnas karena ingin pergi haji. Bagi tim, tidak masalah jika dia ingin pergi haji, manajemen tetap akan mengizinkan. Tapi, sekali lagi jika dia terpilih menjadi pemain SFC," ujar dia. (gk-23)


sumber

WAWANCARA - Alfred Riedl: Wim Rijsbergen Tidak Layak Melatih Timnas Indonesia, Mungkin Suatu Saat Nanti Saya Bisa Kembali

| 0 comments


Usai didepak dari jabatan pelatih timnas Indonesia oleh rezim PSSI anyar, Alfred Riedl sempat memosisikan diri di pihak netral terhadap sang suksesor, Wim Rijsbergen.
Namun, dengan catatan Tim Merah-Putih yang melempem di tangan pria Belanda berusia 59 tahun itu, kalah beruntun di tiga partai terakhir -- satu di laga ujicoba kontra Yordania dan sisanya di kualifikasi Piala Dunia 2014, ditambah sikapnya yang keras terhadap Firman Utina cs., Riedl pun tak segan mencap Wim tak pantas menangani Indonesia.
Opini tersebut diungkapkan Rield dalam wawancara dengan pemimpin redaksi GOAL.com Indonesia, Bima Said, Kamis (8/9).
Selain itu, eks arsitek Vietnam dan Laos itu juga menyampaikan perkembangan upayanya dalam kasus melawan PSSI yang dianggap banyak pihak tak punya alasan kuat memecatnya.
Namun, meski telah dikecewakan, Riedl ternyata tak menutup pintu terhadap probabilitas kembali menangani Tim Garuda. Berikut kutipan wawancaranya:

GOAL.com: Bagaimana tanggapan Anda terhadap kekalahan yang dialami Indonesia dari Iran dan Bahrain?

Alfred Riedl: Saya hanya menyaksikan pertandingan Indonesia melawan Bahrain. Mereka bermain tanpa inspirasi, spirit dan lemah secara taktis.

GOAL.com: Anda memilih pemain-pemain ini sebelum timnas ditangani Wim Rijsbergen. Dari dua kekalahan tersebut, apa yang berubah dari permainan timnas?

Alfred Riedl: Hampir semua pemain saya pilih karena mereka yang terbaik di Indonesia - pemain yang sama yang lolos melawan Turkmenistan. Tentunya bisa mengganti dua atau tiga pemain dengan yang lain tapi tidak lebih dari itu. Pertanyaannya adalah, apa yang dilakukan staf pelatih dengan para pemain? Bagaimana mereka mengatasi tekanan terhadap pemain, dan lain-lain? Banyak hal yang perlu dipertanyakan kepada pelatih dan staf teknisnya.

GOAL.com: Apa tanggapan Anda mengenai pernyataan Wim Rijsbergen usai pertandingan melawan Bahrain, yang menyebut pemain-pemain Indonesia yang Anda pilih tidak siap di level internasional?

Alfred Riedl: Hal itu tergantung pemahaman Anda terhadap level internasional. Dia harus melatih dan membimbing timnas Indonesia. Tim ini bukan Jerman atau Belanda! Dia harus tahu di mana dia bekerja! Minimal para suporter ingin melihat pemain berlari dan berjuang.

GOAL.com: Apa komentar Anda tentang sikap Wim yang menyalahkan para pemain timnas usai kekalahan dari Bahrain?

Alfred Riedl: Ketika Rijsbergen ditunjuk [sebagai pelatih timnas], saya bersikap netral terhadap pelatih baru. Tapi, saya mendengar dari berbagai saksi bahwa pelatih menghina pemain saat turun minum melawan Bahrain. Dia berteriak "f*ck you all, apabila kalian tidak bermain baik di babak kedua saya akan tendang kalian semua dari tim ini" [If you don't play better in the second half I will kick all of you out.] Bukan main tapi sungguh nyata! Daripada memberi semangat kepada para pemain usai tertinggal 1-0, dia malah menghina mereka. Di Eropa, [kalau seperti itu] Anda bisa langsung dipecat, atau pemain memukul Anda! Setelah itu saya tidak lagi berpihak pada Rijsbergen. Dia tidak layak menjadi pelatih timnas Indonesia! Sekitar tujuh pemain sudah mengumumkan mereka tidak akan lagi bermain di bawah pelatih ini. Masalah besar bagi PSSI.

GOAL.com: Banyak yang menginginkan Anda kembali menangani timnas. Bahkan Anda sempat menjadi trending topic di Twitter usai pertandingan melawan Bahrain. Komentar Anda?

Alfred Riedl: Kami tidak mampu memenangkan Piala AFF tapi kami mampu mengubah perasaan para suporter untuk timnas. Kedisiplinan, yang menjadi masalah pada tim sekarang ini seperti Boaz [Solossa], [Ian Louis] Kabes, dan [Kurnia] Meiga, juga komitmen kepada bangsa, iktikad, suatu hal baru yang dilihat suporter Indonesia telah lahir. Kami membangun antusiasme baru. Mungkin suatu hari saya akan kembali bekerja untuk timnas. Dalam bisnis gila ini Anda tidak akan pernah tahu.

GOAL.com: Jadi, apabila kasus dengan PSSI telah diselesaikan, dan PSSI kembali menawarkan tugas melatih timnas Indonesia, apakah Anda akan menerima?

Alfred Riedl: Ya, saya ulangi. Mungkin suatu saat nanti 


GOAL.com: Bagaimana perkembangan kasus Anda yang telah dilaporkan ke FIFA?

Alfred Riedl: Kasus dengan PSSI sudah beberapa minggu masuk FIFA, dan mereka akan mengambil keputusan. Saya hanya sekali bertemu dengan PSSI, sekitar dua minggu setelah saya dipecat. Sejak itu tidak pernah berhubungan lagi dengan PSSI.

GOAL.com: Apa harapan Anda dalam kasus FIFA ini?

Alfred Riedl: FIFA akan mengambil keputusan yang tepat. Mereka akan membantu saya!

GOAL.com: Bagaimana masa depan Anda? Apakah Anda telah ditawari pekerjaan oleh klub Indonesia atau negara lainnya?

Alfred Riedl: Saya akan terbang ke Laos dalam beberapa hari ke depan untuk berdiskusi [dengan asosiasi sepakbola Laos]. Ada perbincangan lainnya dengan sejumlah pihak, termasuk di Indonesia. Kemungkinan besar saya akan meninggalkan Jakarta dalam dua pekan ke depan kalau tidak ada hal luar biasa yang terjadi.

 sumber

 
© Copyright 2011-2012 Simoncelli MotoGP All Rights Reserved.
Template Design by Simoncelli MotoGP | Published by Bloggers Templates | Powered by Blogger.com.